Monday, December 30, 2013

Cerpen


 Dean


"Tolong buatkan pesananku yang seperti biasa, Caramel Frappuccino.. Hem.. Apakah hari ini dia datang?" Tanyaku kepada barista cafe langgananku.
"Sepertinya tidak. Sudah sejak pagi aku disini." Jawab barista tersebut.
Akupun hanya beranjak ke tempat duduk yang biasa aku tempati dengan langkah lunglai. 

Sudah 3 bulan aku secara rutin mendatangi cafe ini. Cafe yang membuatku bisa dekat kembali dengannya. Ya.. Dean Andika Putera. Dia adalah teman satu SMA ku.
Pertama kali aku berkenalan dengannya, ketika menjalani masa Orientasi Siswa. Kami cukup dekat hingga akhirnya masa sekolah dimulai, kebetulan aku berbeda kelas dengannya. tapi Dean masih sempat datang ke kelasku meskipun hanya menegurku.

"Siapa dia?" Tanya Fanda teman sekelasku.
"Hem.. hanya teman" Jawabku sedikit ragu.
"Hanya teman? Dia cukup keren" Sahut Fanda dengan bersemangat.

Fanda adalah teman sekelasku. Pertemananku dengan Fanda tidak terlalu dekat. Aku tidak suka dengan sifatnya yang merasa paling berkuasa di kelas, terkadang dia suka memerintah seenaknya.
Pada hari rabu pagi aku datang terlalu pagi, dikelas aku hanya melihat Fanda sedang sibuk mengerjakan PR matematika yang harus dikumpulkan pagi ini.

"Hei.. apakah kau sudah mengerjakan PR? Berikan PR mu padaku !" Suruh Fanda sambil mengacak-acak tasku mencari PR Matematikaku.
"Hei ! bisakah kau sedikit sopan?! aku baru saja datang !" Sahutku kesal.
"Kau terlalu lama. Ini.. aku sudah menemukannya." Ejek Fanda sambil mengacungkan buku matematika dari dalam tasku.

Aku sangat kesal dibuatnya. Saking kesalnya aku hanya bisa berdiri terpaku menatap kelakuannya.
"Temanmu.. Dean. Kemarin aku berkenalan dengannya." Kata Fanda.
"Dean? Untuk apa dia ceritakan ini kepadaku?" Gumamku.
"Dia terlihat baik, meskipun aku kesal karena dia hanya menanyakan hal tentang dirimu." Lanjutnya.
"Kenapa kau hanya diam? Kau suka dengannya?" Kata Fanda sambil melirik dengan curiga.
"A..aku dan dia hanya berteman." Jawabku dengan ragu.
"Baguslah kalau begitu" Fanda menjawab dengan pedas.

Sudah beberapa hari.. tidak.. sudah beberapa minggu.. Dean tidak pernah lagi menghampiri ke kelasku. Ketika berpapasan dengannya pun dia hanya lewat begitu saja. Kulihat dia berubah.
Sedih.. hanya itu yang dapat kurasakan. "Ah.. kenapa aku menangis seperti ini?" gumamku. Aku pun  beranjak ke kamar mandi untuk mencuci mukaku.

"Kulihat kau dekat dengan Dean sekarang." Kudengar suara seseorang di luar kamar mandi.
"Ya, tentu saja.. Itu hal yang mudah" Sahut suara yang telah aku kenal.
"Tapi setau ku dia dekat dengan teman sekelasmu itu. Aku lupa namanya" Jawab temannya.
"Haha, ya aku tau. Aku pun berusaha menjauhkannya. Kuhasut Dean, dan kukarang hal-hal buruk agar Dean menjauhinya. Kau bisa lihat kan sekarang Dean menghindarinya." Tawa Fanda Bangga.

Kudengar suara tawa mereka menjauh. Setengah tidak percaya apa yang barusan aku dengar. "Dean... Fanda.. tidak mungkin." ucapku lirih.

Aku memutuskan untuk tidak memikirkan Fanda ataupun Dean. Aku belajar super keras.

3 Tahun berjalan cepat. Hingga tiba saatnya upacara kelulusan.
Tiba-tiba saja dari belakang aku mendengar suara yang sudah lama tidak aku dengar, suara yang aku rindukan "Selamat atas kelulusanmu. Kudengar kau diterima di Universitas terfavorit ya?"  Kumenoleh ke sumber suara, dan kulihat dan setengah tidak percaya bahwa Dean yang menyapaku. Akupun hanya mengangguk dan Dean pun beranjak pergi.

Kehidupan perkuliahan pun dimulai, sepulang dari kuliah aku selalu pergi ke cafe langganan di dekat rumahku. Ditemani segelas Caramel Frappuccino minuman favoritku, serta Laptop dan tugas kuliah yang menumpuk. Kukerjakan tugasku tanpa kusadari ada seseorang yang duduk dihadapanku.

"Hai.. kau selalu sibuk dengan Laptopmu" Ujar laki-laki di hadapanku.
Aku mengalihkan konsentrasiku dari laptop ke laki-laki yang duduk di hadapanku. Aku pun hanya bisa menatap terpaku.
"Dean..? Bagaimana bisa kau...?" Tanyaku
"Aku sudah seminggu ini memperhatikanmu. Kau tidak menyadarinya? Aku duduk disitu" Ujar Dean sambil menunjuk ke arah tempat duduk yang dia tempati selama ini.
"Be..benarkah?" Tanyaku terbata bata.
"Ya.. tentu saja. Kau terlalu sibuk dengan laptop dan tumpukan kertasmu ini" Jawab Dean sambil tersenyum.
"Senyuman itu.. senyuman yang dulu kukenal" Berbagai pikiran berlalu lalang di otakku. "Bagaimana bisa aku bertemu Dean disini.. Kenapa dia jadi begitu baik?" Pikirku dalam hati.
"Kau mau pulang? Biar aku antar." Ajak Dean.
"Ah tidak usah rumahku dekat." Ujarku.
"Hari sudah mau malam, ayolah" Dean bangkit sambil membawa laptop dan barang-barangku.

"Nah, naiklah" Kata Dean sambil membukakan pintu mobilnya. Kemudian Dean mengantarku pulang sampai rumah. "Kuharap kita bisa bertemu lagi besok. Selamat malam" Ujar Dean sambil tersenyum.

Keesokan harinya..

“Kita bertemu lagi..” Kata Dean.
“Ya.. ” Sahutku. “Kau terlihat sedih. Kau tidak ingin bertemu denganku?” Tanyaku
“Ah tidak.. tidak.. aku sangat senang bisa bertemu denganmu lagi. Aku hanya..” Dean terdiam.
“Hanya apa?” Tanyaku
“Aku hanya mau minta maaf apa yang telah kulakukan waktu kita SMA dulu. Aku terlalu kekanakan. Aku telah tau yang sebenarnya. Tentang Fanda yang mengarang semua cerita agar aku menjauhimu. Aku sangat menyesal. Aku minta maaf” Jelas Dean panjang lebar.

Aku terdiam sejenak. Tidak kusangka akan datang hari ini. “Aku sudah memaafkanmu Dean” Ujarku.
Dean pun tersenyum. Tapi aku masih melihat raut kesedihan di muka Dean.

Keesokan harinya seperti biasa aku mampir ke café langgananku. Sedikit berharap bisa bertemu dengan Dean lagi. Namun hari ini dia tidak datang. 
“Mungkin dia sedang sibuk” Pikirku dalam hati. 
Keesokan harinya aku datang lagi, namun Dean tidak datang. Seminggu aku menunggu, hingga sebulan tidak ada tanda-tanda kehadiran dari Dean. 
“Kemana Dean?” Aku bertanya-tanya dalam hati.  
Hari ini aku ditemani temanku Dhania dan Syahidah mengerjakan tugas.  
“Hei kau cari apa?” Tanya Dhania penasaran.  
“Aku tau, dia mencari Dean Dean itu” Goda Syahidah jahil. 
“Sudahlah kudengar kau dapat beasiswa kuliah di Korea kan? Lupakanlah dia. Dan cari lelaki yang lain disana. Kudengar disana banyak laki-laki tampan”. Ujar Dhania sambil melirik nakal.
“Hei apa kalian tidak sedih aku akan pergi? Kalian malah menggodaku.” Kataku sambil cemberut. 

Di Bandara..

“Hati-hati disana. Kabari aku ya” Kata Dhania
“ Jangan lupakan kami” Syahidah menambahkan.
“Tenang saja karena kalian adalah sahabat terbaikku. Tidak mungkin aku lupakan” Ujarku sambil memeluk mereka

6 jam perjalanan..

“Brrr. Dingin sekali disini. Aku tidak menyangka akan sedingin ini” Gumamku.
“Kurasa secangkir cokelat panas akan menghangatkanku.” Ujarku dalam hati.
Aku melangkah keluar bandara dan aku menemukan cabang café favoritku.
Aku duduk sambil menikmati secangkir cokelat panasku. Ku memandang ke arah tempat duduk di tepi jendela. Sedikit tidak percaya akan apa yang aku lihat. Kulihat dia juga menatapku. 

“Dean?” Bisikku.
 Dean bangkit, berjalan menghampiri dan memelukku. 
“Aku tau kita akan bertemu lagi. Aku minta maaf karena aku pergi begitu saja. Aku hanya tidak bisa memberitahumu kalau aku akan pergi.. Aku tidak sanggup..” Ucap Dean lirih.
 
Sesaat suasana hening. 
“Maukah kau berikan aku kesempatan untuk memperbaiki segalanya?” Tanya Dean penuh harap. 
“Ya..” Jawabku 
Penantianku yang begitu panjang, kesedihan yang aku rasakan, dan pengorbanan yang selama ini aku lakukan. Seketika menguap. Digantikan dengan kehangatan yang aku harap bisa memberikan aku kebahagiaan.

THE END

 

 

Dibuat Oleh : 

NAMA                  : Yulianti

KELAS                 : 3KA24

NPM                      : 17111649

 

UNIVERSITAS GUNADARMA 



 

No comments:

Post a Comment